Tuesday, 2 October 2018

Bersama-sama Berupaya Meningkatkan Pembelajaran di Indonesia

Para penggerak pendidikan dari berbagai lembaga non-pemerintah antusias mengikuti diskusi “Program RISE di Indonesia: Menghadapi Tantangan Pendidikan di Indonesia. | Foto-foto: Mukti Mulyana

Bagaimana cara meningkatkan pembelajaran di Indonesia?

Indonesia sedang memasuki Tantangan Pendidikan 3.0, yaitu meningkatkan kualitas pembelajaran. Selain Pemerintah, pihak-pihak yang bergerak di sektor pendidikan, mulai dari lembaga pendidikan, lembaga pendidikan dan tenaga kependidikan (LPTK), lembaga non-pemerintahan, lembaga penelitian, komunitas, hingga swasta, terus berupaya mencari jalan terbaik untuk mengatasi berbagai persoalan dalam sistem pendidikan Indonesia yang berkontribusi terhadap rendahnya kualitas pendidikan siswa di negara ini.

Menyadari pentingnya kerja sama dengan pihak-pihak yang terlibat dalam upaya tersebut, Program RISE di Indonesia mengadakan diskusi bertema “Menghadapi Tantangan Pendidikan di Indonesia” pada 19 September 2018 di EV Hive D.Lab Coworking Space Menteng, Jakarta. Melalui diskusi interaktif dan mendalam oleh para pemangku kepentingan bidang pendidikan, diharapkan muncul masukan, bukti, serta pandangan yang dapat berpengaruh terhadap upaya peningkatan kualitas pembelajaran. Acara yang dipandu oleh Sari Soegondo tersebut juga bertujuan menginformasikan perkembangan pelaksanaan serta temuan awal penelitian Program RISE di Indonesia kepada para pemangku kepentingan di bidang pendidikan.

Asep Suryahadi (Direktur SMERU/Ketua Komite Pengarah RISE) membuka acara sekaligus menyampaikan kembali tujuan pelaksanaan Program RISE di Indonesia. Asep juga menyebutkan bahwa diskusi pada hari itu merupakan acara update kedua yang diselenggarakan oleh RISE setelah sebelumnya  diadakan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berkerja sama dengan Balitbang Kemdikbud dan Kemenristekdikti.

Profil Pembelajaran Indonesia: Bersekolah, Apakah Belajar?

“Berapakah hasil dari 1/3-1/6?” Pembicara pertama, Sudarno Sumarto (Team Leader RISE), mengawali sesi pertama dengan melontarkan pertanyaan tersebut. Setelah dijawab dengan benar oleh beberapa peserta diskusi, ia mengungkapkan fakta yang cukup mencemaskan: di Indonesia, kurang dari 3% anak usia 10 tahun dan kurang dari 7% responden dewasa berumur 28 tahun mampu mengerjakan soal pecahan sederhana .

Sudarno melanjutkan dengan bercerita tentang kondisi pendidikan di Indonesia yang sebenarnya mengalami perkembangan berarti selama beberapa dekade terakhir, yaitu partisipasi sekolah meningkat, serta sarana dan prasarana pendidikan juga tersedia. Ia lalu mengajukan pertanyaan lain: apakah anak-anak yang bersekolah juga belajar?   

Sudarno memaparkan temuan dalam Profil Pembelajaran Indonesia yang disusun oleh tim peneliti RISE.

Profil Pembelajaran Indonesia  yang disusun oleh tim peneliti RISE–menggunakan data Indonesian Family Life Survey (IFLS)–menunjukkan bahwa tingkat pembelajaran siswa di Indonesia hanya mengalami sedikit kenaikan (sekitar 11%) setelah bersekolah selama 12 tahun. Selain itu, peningkatan hasil pembelajaran antarjenjang pun tidak terlalu besar dan bahkan terjadi penurunan antara profil pembelajaran 2000 dengan 2014. Kondisi tersebut menjadi dasar pelaksanaan Program RISE di Indonesia, yang akan memfokuskan penelitiannya pada dua topik besar, yaitu reformasi guru di tingkat nasional (Reform Area A) dan inovasi kebijakan pendidikan di daerah (Reform Area B).

Pengalaman dari Berbagai Intervensi di Daerah

Pada sesi selanjutnya, para pembicara menceritakan hasil sejumlah intervensi yang sudah dilakukan di berbagai daerah. Pembicara kedua, Dewi Susanti (Team Leader KIAT Guru Indonesia), memaparkan pelaksanaan program KIAT Guru yang bertujuan mengurangi angka ketidakhadiran guru di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) lewat pemberdayaan masyarakat dan mekanisme tunjangan berbasis kinerja. Dewi menyebutkan bahwa partisipasi dan dukungan dari pemerintah daerah dan masyarakat penting untuk memastikan program dapat berjalan dengan tepat dan sesuai untuk meningkatkan hasil pembelajaran.

Dewi menjelaskan temuan dari program KIAT Guru yang telah dilaksanakan di sejumlah daerah di Indonesia.

Pembicara selanjutnya, Niken Rarasati (peneliti RISE), menyampaikan hasil temuan awal RISE di Kabupaten Way Kanan dan Kabupaten Kebumen. Di Way Kanan, kebijakan pendidikan yang ada belum secara langsung mengarah kepada peningkatan hasil belajar. Selain itu, pembelajaran masih menggunakan metode tradisional seperti guru membacakan teks di buku pelajaran dan membahas soalnya bersama-sama dengan siswa.

Sementara itu, inovasi kebijakan pendidikan di Kebumen sekilas tampak berhubungan dengan pembelajaran. Salah satu contohnya adalah guru di kabupaten tersebut memiliki pemahaman yang baik mengenai metode pembelajaran interaktif. Guru mempraktikkan metode tersebut secara rutin dan para siswa pun berpartisipasi secara aktif; suasana belajar di kelas terasa hidup dan menyenangkan. Tetapi, ketika diamati lebih saksama, guru ternyata belum mengaitkan metode pembelajaran interaktif tersebut dengan materi pelajaran. Ketika sampai pada aktivitas pembelajaran, guru hanya menuliskan materi pelajaran di papan tulis dan meminta siswa menyalinnya serta mengisi soal-soal yang tidak berhubungan dengan aktivitas interaktif yang dilakukan. Kondisi di Kebumen ini dikenal dengan sebutan isomorphic mimicry, yaitu proses adopsi suatu praktik baik yang sebenarnya hanya terbatas pada bentuk atau prosedurnya tanpa memahami akar permasalahan yang ingin dipecahkan melalui praktik baik tersebut.

Niken mengilustrasikan temuan awal RISE di Kabupaten Way Kanan dan Kabupaten Kebumen menggunakan perumpamaan dua mobil. Mobil pertama (Way Kanan) tidak memiliki roda, sementara mobil kedua (Kebumen) memiliki bagian-bagian yang lengkap, namun keduanya ternyata sama-sama tidak berfungsi.

Pembicara terakhir adalah Mark Heyward, Program Director Program INOVASI yang bercerita tentang program Guru Baik yang memfasilitasi guru agar dapat menentukan masalah apa yang mereka hadapi dan memecahkan masalah tersebut secara mandiri. Salah satu pelajaran yang dapat dipetik dari pelaksanaan Program INOVASI selama ini adalah guru di Indonesia sesungguhnya memiliki kemampuan untuk berinovasi apabila diberi peluang dan dukungan.

Mark menceritakan pengalaman intervensi program INOVASI serta hal-hal yang dapat dipelajari dari praktiknya di lapangan selama ini.

Diskusi Kelompok

Usai menyimak cerita para pembicara, peserta diajak berdiskusi secara berkelompok mengenai topik-topik yang telah disampaikan oleh keempat pembicara. Salah satu pertanyaan yang didiskusikan bersama adalah upaya apa yang kira-kira dapat dilakukan oleh peserta–yang berkecimpung di sektor pendidikan–untuk meningkatkan kualitas pembelajaran siswa. Hasil diskusi tersebut dapat dirangkum menjadi tiga poin besar:

  1. Peningkatan sumber daya, baik berupa sarana-prasarana maupun tenaga pendidik, hendaknya tidak berhenti pada pengadaan, melainkan perlu memastikan bahwa sumber daya tersebut memang memberi manfaat.
  2. Komunitas pemerhati dan penggerak pendidikan dapat turut serta dalam mendukung inovasi pendidikan.
  3. Partisipasi dari aktor-aktor lain (Pemerintah, masyarakat, orang tua, guru, dan siswa) pun penting untuk mendukung peningkatan kualitas pembelajaran.

Para peserta secara aktif mendiskusikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan seputar materi yang telah disampaikan pembicara sebelumnya.

Diskusi mengenai topik lain pun berlangsung dengan baik; para peserta secara aktif mengutarakan pendapat maupun masukan mereka. Benang merah yang dapat ditarik adalah pentingnya pemahaman terhadap konteks lokal dalam menerapkan suatu intervensi–bukan hanya di tingkat kabupaten/kota, namun sampai ke tingkat sekolah karena karakteristik setiap sekolah berbeda-beda. Masukan tambahan yang juga relevan adalah perlunya pelibatan guru dalam perancangan intervensi dan pembangunan mindset bahwa tanggung jawab guru berfokus pada peserta didik. Dengan cara ini, secara internal guru akan lebih termotivasi untuk melaksanakan tanggung jawabnya.

Para pembicara memberikan tanggapan terhadap hasil diskusi yang disampaikan oleh peserta pada sesi sharing.

Daniel Suryadarma (Deputy Team Leader RISE) kemudian meringkas hasil diskusi pada hari itu: di balik beratnya tantangan pendidikan Indonesia, salah satu strategi pemecahan masalah yang perlu diambil adalah mengganti kerangka berpikir dalam melihat permasalahan pendidikan. Kerangka berpikir yang semula melihat permasalahan dari “atas ke bawah” harus diganti menjadi dari “bawah ke atas” karena Indonesia merupakan negara yang besar, memiliki banyak wilayah administratif, bahasa, dan bermacam-macam budaya. Oleh karena itu, untuk membuat kebijakan yang dapat mengakomodasi keunikan daerah, penting untuk merancang dan mengevaluasi kebijakan atau inovasi pada tingkat daerah sebelum diadopsi dan digeneralisasi menjadi kebijakan nasional.

Diskusi “Program RISE di Indonesia: Menghadapi Tantangan Pendidikan di Indonesia” telah selesai, namun tantangan pendidikan di Indonesia masih menjadi PR bersama. Kerja sama antarberbagai pihak dapat menjadi kunci untuk mengatasi kendala yang ada. Pemerintah, penggerak pendidikan, masyarakat, guru, dan siswa memiliki peran yang sama pentingnya dan semua perlu bergerak.

Bersama memajukan pendidikan di Indonesia!

.

.

.

Video dan materi presentasi acara dapat diakses di sini.

Foto acara dapat diakses di sini.


Bagikan Postingan Ini