Monday, 17 February 2020

Sekolah Baru, Pengalaman Baru

Foto ilustrasi: Novita Eka Syaputri

 

Artikel ini merupakan bagian dari seri "Catatan Perjalanan Guru” dengan tema pengalaman mengajar.

 

Setelah lulus dari Program Pendidikan Profesi Guru (PPG), saya memutuskan untuk mengajar di sekolah yang berbeda dari sebelumnya. Sebenarnya saya sudah mengenal banyak orang di sekolah baru ini. Meski begitu, namanya bekerja di tempat baru, saya tetap menjalani proses adaptasi.

Di sekolah ini saya bekerja penuh waktu sebagai guru kelas 5 tanpa tugas tambahan. Saya merasa ada banyak hal di sekolah ini yang tidak sesuai dengan keinginan ataupun bayangan saya. Segalanya seolah jauh dari apa yang saya impikan. Selain itu, semangat para guru muda di sekolah ini pun berbeda jauh dari teman-teman di Program PPG.

Meski berstatus guru baru, saya mengajukan banyak masukan kepada sekolah. Sayangnya, masukan dari saya kurang mendapat respons. Sedih? Tentu. Tetapi, saya bertekad agar semangat jangan sampai mengendur.

 

Berinisiatif untuk Menjadi Kreatif

Hari-hari bekerja di sekolah baru saya lalui dengan mengikuti arus: mengajar sesuai dengan materi yang ada, berangkat dan pulang sekolah sesuai sesuai dengan jadwal, dan tetap mengajar dengan baik walau terkadang ada rasa kurang nyaman pada lingkungan baru.

Suatu hari saya diminta mengirimkan siswa untuk mengikuti lomba matematika dan IPA (MIPA) di tingkat kecamatan. Tugas ini ternyata tidak mudah karena saya kesulitan menemukan siswa yang mumpuni.

Di situlah saya mulai bersemangat. Dalam hati saya berpikir, “Sudahlah, tidak usah mengikuti yang lain atau mengajak mereka yang tidak tertarik.” 

Menurut saya jika ingin membuat perubahan harus dimulai dari diri sendiri, bukan orang lain. Oleh karena itu, ketika hati saya sudah mulai tergerak, saya langsung bergerak.

Saya lalu memulai kegiatan-kegiatan yang saya pikir baik dan bermanfaat. Saya menata dan menghias kelas, serta menuntaskan tugas-tugas administratif. Saya membuat program sendiri di kelas dengan harapan bisa menjalin silaturahmi yang baik dengan orang tua siswa, serta menjadi contoh kelas yang mandiri, inovatif, dan kreatif.

Tiap pagi saya menyempatkan diri untuk menyambut siswa di pintu gerbang sekolah. Saya juga mengajak para siswa untuk membersihkan kelas, menyirami tanaman, dan lain-lain.

Saya kemudian diminta untuk menyiapkan dan membimbing siswa yang akan ikut lomba, seperti menyanyi dan menggambar. Pada saat ini saya sudah mulai merasa nyaman. Kelas sudah lebih rapi dan saya selalu melibatkan orang tua siswa dalam kegiatan yang saya adakan. Saya juga membentuk paguyuban kelas 5.

Walaupun semuanya tampak berjalan lancar, tetapi halangan tetap ada. Kepala sekolah jarang mau menerima usulan dari rekan-rekan guru sehingga kadang membuat hati kesal.

 

Memaksimalkan Keadaan

Lingkungan sekolah tempat saya mengajar sangat nyaman. Jumlah siswanya lumayan banyak dan sudah memenuhi standar minimal 20 siswa dalam tiap rombongan belajar (rombel). Guru yang mengajar di sekolah ini terdiri dari guru honorer (5 orang) dan guru berstatus pegawai negeri sipil/PNS (4 orang).

Namun, saya merasa kesulitan mengajak rekan-rekan guru untuk berinovasi membuat kegiatan yang variatif. Mereka memiliki semangat yang berbeda dibandingkan teman-teman saya saat di Program PPG.

Para guru yang berstatus PNS sebentar lagi pensiun sehingga produktivitas mereka tidak seperti dulu lagi. Di sisi lain, rekan-rekan guru yang berstatus honorer sibuk dengan urusan keluarga. Setiap hari mereka datang untuk mengajar, lalu langsung pulang. Mengajak mereka untuk mengembangkan kebiasaan menyambut siswa di pagi hari, merutinkan salat duha, dan membaca hafalan surat pendek dan Asmaul Husna saja sulit, apalagi mengajak mereka untuk mengembangkan literasi.

Sampai saat ini, saya hanya menjalankan kewajiban mengajar anak didik dan memberikan pembelajaran yang interaktif seadanya karena minimnya fasilitas sekolah maupun dukungan dari kepala sekolah.

Tiap pagi saya berangkat lebih awal agar dapat menyambut kedatangan siswa di sekolah dan menemani mereka membersihkan kelas.

Saya juga berinisiatif melakukan tugas-tugas tambahan, seperti memberikan latihan mewarnai dan membuat pojok literasi.

 

* Catatan ini ditulis oleh DP, guru SD di Provinsi Jawa Timur.

** Semua tulisan yang dipublikasikan dalam Catatan Perjalanan Guru merupakan pandangan penulis, telah melalui proses penyuntingan untuk keperluan penulisan populer, dan tidak mewakili pandangan Program RISE di Indonesia ataupun penyandang dana RISE.


Bagikan Postingan Ini