Catatan Perjalanan Guru

Mengajar Banyak Kelas, Memahami Karakter Siswa yang Berbeda-beda

Semester dua hampir selesai. Saya berharap kali ini dapat mengajar selama satu tahun pembelajaran secara penuh. Sejak awal mengajar di 2016, saya belum pernah sekalipun memegang satu kelas selama satu tahun pembelajaran secara penuh. Alasannya, saya sering dipindah kelas dan harus cuti karena mengikuti program Pendidikan Profesi Guru (PPG).

ID

Mendidik Siswa Berkebutuhan Khusus

Tantangan terbesar saya sebagai guru saat ini adalah mengajar siswa berkebutuhan khusus. Di kelas saya ada satu siswa berkebutuhan khusus yang saya sebut anak istimewa. Setiap hari ia hanya mencoreti buku tulisnya. Kadang ia keluar kelas lalu berlari mengelilingi sekolah dan melewati setiap kelas. Saat para guru menegurnya, ia mengamuk dan berlarian lagi.

ID

Menjalani Proses untuk Menjadi Guru Berkualitas

* Catatan ini ditulis oleh IK, guru SD di Provinsi DI Yogyakarta.

** Semua tulisan yang dipublikasikan dalam Catatan Perjalanan Guru merupakan pandangan penulis, telah melalui proses penyuntingan untuk keperluan penulisan populer, dan tidak mewakili pandangan Program RISE di Indonesia ataupun penyandang dana RISE.

Kata orang, semakin tua usia pohon jati, maka semakin tinggi harganya. Sama halnya dengan guru muda, yang membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk berproses hingga menjadi guru yang berkualitas. Sebagai guru muda, saya sangat memahami panjangnya proses yang harus saya jalani. Banyak kasus yang harus saya pecahkan dan banyak pribadi (murid) yang harus saya pelajari dan pahami.

ID

Guru Muda Harus Terus Belajar

Guru muda sering dipandang sebagai sosok guru yang kreatif, inovatif serta pandai dalam mengaplikasikan berbagai teknologi terbaru. Label tersebut kadang benar, namun, kadang bisa juga kurang benar. Label-label itu membuat guru muda dituntut untuk terus belajar hingga menjadi guru muda yang berkualitas. Banyak harapan besar yang ditumpukan kepada guru muda.

ID

Rasa Ingin Berhenti

Menjadi guru berstatus honorer memang tidak mudah, apalagi saat dituntut dengan beban kerja dan profesionalisme tinggi, serta berbagai tugas administrasi yang menyita waktu. Kondisi seperti itu yang sering menggoyahkan hati. Menimbulkan rasa ingin berhenti dan berganti profesi lain yang menawarkan kesejahteraan yang lebih baik daripada menjadi guru.

ID

Guru Harus Terus Belajar

Banyak hal yang sudah saya lalui selama kurang lebih tiga tahun menjadi guru. Sebagai guru muda yang masih minim pengalaman, saya sering dipandang sebelah mata atau diremehkan oleh orang lain, termasuk oleh wali murid yang rata-rata berusia lebih tua dari saya. Lantas, bagaimana cara saya menyikapi hal tersebut?

ID

Guru Harus Memiliki Kreativitas

Selain itu, saat mengajarkan skala perbandingan, saya mengajak para siswa ke luar kelas untuk mengamati lingkungan sekitar secara langsung. Saya lalu meminta mereka menggambarkan hasil pengamatan tersebut dalam secarik kertas secara berkelompok. Dari hasil pengamatan tersebut, para siswa dapat berdiskusi mengenai perbandingan dan skala. Menurut saya, dengan cara ini siswa dapat lebih mengerti tentang pengertian skala perbandingan dan penggunaannya daripada hanya membaca buku modul.

ID

“Status Saya Sekarang Lebih Jelas”

Sebelum berstatus CPNS, saya pernah menjadi guru honorer. Bekerja sebagai guru honorer tidak mudah. Tugasnya banyak, tetapi gajinya tidak seberapa–bahkan bisa dibilang tidak layak dan tidak manusiawi. Gaji guru honorer di Kabupaten Bantul sekitar 300 ribu rupiah per bulan. Angka itu sangat jauh di bawah upah minimum regional wilayah. Padahal, untuk mendapatkan ijazah sarjana membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit.

ID