Wednesday, 4 November 2020

Systemic Constraints Facing Teacher Professional Development in a Middle-Income Country: Indonesia’s Experience Over Four Decades

Selama empat dekade terakhir, Pemerintah Indonesia telah melakukan banyak upaya untuk mereformasi pengembangan profesionalisme guru. Meskipun demikian, kualitas guru Indonesia sampai saat ini masih rendah. Mengapa berbagai upaya pemerintah itu gagal?

Dalam studi ini kami menyelidiki penyebab kegagalan tersebut dari dua sisi. Pertama, kami mengkaji efektivitas program pengembangan profesionalisme guru terbaru dari pemerintah yang bernama Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB), dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas program tersebut.  

Kami menemukan bahwa fitur-fitur penting di program pengembangan profesionalisme guru yang berhasil guna tidak ada di PKB. Contohnya:

  • PKB tidak menyasar guru berdasarkan pengalaman mengajar mereka;
  • tidak ada kegiatan pascapelatihan bagi guru yang sudah mengikuti PKB;
  • kegiatan diklat PKB tidak disertai dengan praktik/latihan mengajar berupa guru mendemonstrasikan keterampilan mengajarnya kepada peserta lain dan instruktur pelatihan; dan
  • PKB tidak mempertimbangkan pengalaman ataupun pengetahuan mengajar yang sudah dimiliki guru.

Kedua, analisis kami menunjukkan bahwa kelemahan-kelemahan PKB itu juga terdapat di berbagai program pengembangan profesionalisme guru sebelumnya, sejak empat dekade lalu. Temuan ini menandakan bahwa penyebab tidak efektifnya program pengembangan guru di Indonesia, yang berlangsung selama puluhan tahun, berasal dari berbagai elemen di dalam sistem pendidikan–di luar masalah yang bersifat teknis atau operasional.

Hasil analisis kami terhadap sistem pendidikan Indonesia menunjukkan bahwa memperbaiki masalah teknis pada program pengembangan profesionalisme guru tidak akan menghasilkan perubahan yang signifikan. Alasannya, sistem pendidikan Indonesia tidak koheren dalam kaitannya dengan kualitas guru. Masalah pengembangan profesionalisme guru sangat rumit dan tidak bisa diatasi dengan hanya mengganti program lama dengan program baru. Untuk bisa menghasilkan perubahan yang berarti, sistem pendidikan Indonesia harus pertama-tama berorientasi pada penciptaan guru-guru yang berkualitas.


Bagikan Postingan Ini