Friday, 12 April 2019

"Saya Ingin Menjadi Guru Profesional"

Foto ilustrasi: Tony Liong

 

Saya lahir di keluarga besar guru. Ayah saya guru lulusan Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Setelah SPG dibubarkan dan kala itu guru harus minimal bergelar D-2, Ayah tetap berkecimpung dalam bidang keguruan. Beliau mendapat amanah untuk menjadi dosen program studi pendidikan guru sekolah dasar (PGSD) di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang saat ini bernama Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Selain Ayah, kakek dan banyak tante saya juga berprofesi sebagai guru. Dalam setiap pertemuan keluarga selalu ada pembahasan tentang dunia keguruan, seperti rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) kurikulum dan sebagainya.  

Kedua kakak saya memilih untuk melanjutkan tradisi keluarga dengan menjadi guru–tanpa paksaan maupun himbauan dari keluarga besar. Mereka merasakan dorongan hati yang kuat untuk menekuni profesi guru.

Terbukti, selesai kuliah mereka memang cocok berkecimpung di bidang keguruan. Tiga bulan setelah lulus kuliah, mereka lolos tes seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS).

 

Mantap ingin menjadi guru

Saat tiba waktu saya untuk memilih jurusan kuliah, hati saya pun mantap ingin memilih bidang keguruan.

Saya teringat perkataan guru agama di sekolah yang mengutip sebuah hadis, “Barang siapa menjadi pelopor suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya pahala semisal pahala orang yang mengikutinya dan sedikit pun tidak akan mengurangi pahala yang mereka peroleh. Sebaliknya, barang siapa menjadi pelopor suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikit pun.” (HR Muslim no. 1017)

Ditambah lagi kakak saya membuka bimbingan belajar kecil-kecilan di rumah dan saya ikut mengajar. Ada perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata setiap habis mengajar. Rasanya ingin terus mengulang pengajaran.

 

Tidak disetujui Ayah

Tetapi, ternyata Ayah saya memiliki pandangan yang berbeda. Beliau berkali-kali membujuk saya agar tidak menjadi guru. Beliau ingin anak laki-lakinya menekuni profesi yang “terpandang”, seperti dokter atau pilot.

Dalam hati saya tidak setuju, tetapi saya juga tidak ingin mengecewakan Ayah. Saya lalu mendaftar di semua jalur masuk perguruan tinggi negeri dan sekolah kedinasan, seperti Sekolah Tinggi Transportasi Darat, Politeknik Keuangan Negara STAN, Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia, dan sekolah pilot.

Saya sempat mengikuti tes masuk di berbagai lembaga itu hingga beberapa tahapan, namun, semua upaya saya gagal di tengah jalan. Tes masuk yang sukses saya lewati sampai akhir hanyalah di jurusan PGSD UNJ.  

Saya lalu berpikir mungkin memang sudah takdir saya untuk menjadi guru. Ayah pun menerima kenyataan itu.

Saya ingin membuktikan kepada Ayah bahwa saya bisa menjadi guru yang bukan hanya bisa mengajar, tetapi guru yang profesional.

Pada masa awal kuliah, saya mengikuti pelatihan kepemimpinan di kampus. Di pelatihan itu ada seorang instruktur dari Jurusan Psikologi UNJ yang meramal kelak saya akan menjadi guru yang sukses. Menurut instruktur tersebut, dari sikap dan gaya berbicara saya, saya memiliki kharisma dan daya tarik yang kuat.

“Ramalan” itu saya jadikan cambuk penyemangat untuk menjadi guru profesional.

 

Langsung bekerja sebagai guru

Saat kuliah semester akhir, ketika tugas skripsi saya belum selesai, saya mendapat panggilan untuk menjadi guru di salah satu SD di Jakarta Timur. Saya tak tahu mereka mendapat nomor saya dari mana karena saya juga tidak pernah melamar pekerjaan ke sekolah tersebut.

Setelah diterima, saya dipercaya menjadi guru kelas 4 menggantikan wali kelas sebelumnya yang mendapat beasiswa S-2. Para siswa di kelas tersebut rata-rata pendiam dan pasif.

Pada minggu-minggu pertama bekerja, saya berusaha mengikuti ritme guru sebelumnya. Tetapi, di dalam hati saya ingin mengubah situasi tersebut.

Pada bulan kedua, saya mencoba berbagai jenis metode pembelajaran. Saya juga mulai bereksplorasi dengan para murid. Saya mencoba mengajari mereka bertanggung jawab dengan membuat peraturan kelas yang reward and punishment-nya dibuat oleh para murid sendiri. Contoh peraturannya seperti larangan berkata kasar dan makan atau minum berdiri.

Intinya, saya tidak ingin hanya menjadi guru yang mentransfer ilmu saja. Saya juga ingin mendidik sikap murid.

Upaya yang saya lakukan itu mendapat respons positif dari orang tua murid. Tetapi, sebaliknya dari rekan-rekan guru; ada yang mencemooh langkah yang saya lakukan. Meski begitu, saya tak patah semangat. Saya buktikan pada mereka bahwa guru adalah seorang pendidik, bukan sekadar pentransfer ilmu.

Alhamdulillah semangat saya berbuah positif. Selama tiga tahun bekerja di sekolah itu saya selalu menjadi guru dengan kinerja paling baik. Efeknya, saya pun mendapat kenaikan gaji yang tak terduga serta dipercaya menjadi staf kurikulum.

 

 

* Catatan ini ditulis oleh WI, guru SD yang berasal dari Provinsi DKI Jakarta.

** Semua tulisan yang dipublikasikan dalam Catatan Perjalanan Guru merupakan pandangan penulis, telah melalui proses penyuntingan untuk keperluan penulisan populer, dan tidak mewakili pandangan Program RISE di Indonesia ataupun penyandang dana RISE.



Bagikan Postingan Ini