Thursday, 11 April 2019

Berbagi Kepada Sesama Melalui Pendidikan

Foto ilustrasi: Goldy F. Dharmawan

 

Gruuukk gruuukk! Krucuukk krucuuukk! Taang tiiing taaang tiiiing! Sluuurrrrppppp!

Bunyi-bunyian itu adalah “dering alarm pagi” saya sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD). Suara aneh itu menandakan Bapak sedang mempersiapkan kopinya. Mulai dari menggiling biji kopi menggunakan lumpang dan alu, menyeduh, mengaduk, hingga menyeruputnya dengan penuh kenikmatan.

Kenapa bukan Ibu yang menyiapkan kopi Bapak seperti ibu rumah tangga pada umumnya? Karena Ibu tidak sempat. Setiap hari Ibu bangun pukul 5 pagi, menyiapkan sarapan dan keperluan tiga anak perempuannya yang berumur 6, 8, dan 11 tahun, lalu bergegas berangkat kerja sebelum pukul 7.

Siang hari setelah pulang sekolah, Ibu beristirahat sebentar lalu menyiapkan makan siang bagi keluarganya. Setelah itu Ibu kembali bekerja sebagai guru privat di rumah sampai pukul 9 malam.

Ibu bekerja sebagai guru SD sejak usia 19 tahun. Sampai sekarang berusia 56 tahun, beliau belum pernah berganti profesi.

Karena kesibukan Ibu cukup tinggi, saya jadi agak sulit memiliki waktu bersama beliau. Saya bahkan tidak yakin beliau punya waktu untuk dirinya sendiri. Tetapi, Ibu selalu terlihat bahagia. Beliau tidak pernah terlihat lelah barang sedikit pun, meski habis lembur di sekolah.

 

Mengapa harus menjadi guru?

Suatu malam pada 2004, saat kondisi ekonomi keluarga kami masih saja sulit, untuk pertama kalinya saya bertanya kepada Ibu kenapa beliau harus menjadi guru. Apalagi pendapatan dari pekerjaan itu tidak pernah besar.

Tidak disangka, Ibu lalu bercerita panjang. “Hidup itu tentang berbagi. Apa yang mau kita bagi sekarang? Untuk hidup sehari-hari kita memang sulit, tidak ada uang atau beras yang bisa kita bagikan. Tetapi, ketika menjadi guru, kita bisa memberikan sesuatu yang paling berharga yang kita miliki, yaitu hidup kita, melalui pendidikan,” demikian antara lain ucapan beliau yang saya ingat.

Masih banyak lagi ucapan Ibu setelahnya; semua mengarah kepada “memberi hidup” kita untuk sesama. Percakapan pada malam itu menjadi awal dari kemunculan “panggilan-panggilan” kecil dalam diri saya untuk menjadi guru.

Saya juga ingin berbagi dengan “memberikan hidup” saya kepada generasi mendatang melalui pendidikan. Saya tahu semua hal bisa hilang, tetapi pengetahuan dan pengalaman bermakna yang saya berikan, karakter baik yang saya bentuk pada anak didik akan terus tinggal dalam diri mereka–disadari atau tidak.

Banyak teladan dari Ibu yang semakin menginspirasi saya untuk menjadi guru seperti beliau. Bahkan saya ingin menjadi lebih baik lagi.

 

Guru-guru inspiratif

Keinginan menjadi guru bertambah kuat ketika saya melihat para pengajar yang inspiratif. Salah satunya Ibu Oktaf Indah, guru seni musik di SMA saya. Beliau memiliki ciri khas mengajar yang berbeda dari pengajar lain yang pernah saya lihat, termasuk ibu saya sendiri.

Bagi Ibu Oktaf, menikmati pelajaran adalah poin penting yang harus didapatkan anak-anak ketika berada di kelasnya. Tidak semua orang pandai bermusik, tetapi semua orang bisa menikmati musik.

Saya belajar dari beliau untuk belajar menikmati setiap hal yang dihadapi; manis maupun pahit, dan suka maupun tidak suka.

Selain itu, ada pula dosen di kampus saya dulu yang juga menginspirasi saya, namanya Ibu Wida Sari. Bagi beliau, suatu kegagalan adalah salah satu momen berharga yang kadang patut diapresiasi. Beliau menyampaikan itu kepada saya ketika saya gagal mendapat nilai dari salah satu tugas karena alasan tertentu.

Waktu itu beliau meminta saya untuk “merayakan” kegagalan itu karena beliau tahu saya sudah bekerja keras dan menghabiskan banyak waktu untuk menyelesaikan tugas tersebut. Beliau menyarankan saya untuk traveling, lalu bangkit dan maju tanpa melupakan kegagalan yang pernah saya alami.

 

Realita di lapangan

Selain terinspirasi oleh beberapa sosok tadi, ada dorongan lain yang membuat saya yakin dengan panggilan hidup menjadi guru. Saya melihat di lapangan banyak sekali guru yang mengajar dengan seenaknya karena mereka merasa pekerjaan ini bukan passion mereka.

Oleh karena itu, saya berusaha menjaga panggilan hidup sebagai guru agar saya dapat menolong anak-anak meraih impian dan menemukan panggilan hidup mereka. Saya percaya ada potensi luar biasa pada tiap anak didik yang harus saya temukan dan memberi mereka kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan diri.

Saya yakin ketika para murid dapat mengembangkan potensi, panggilan hidup mereka akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

Apakah saya bahagia menjadi guru? Yes, I am! Semua mungkin terdengar klise dan naif, tetapi semua itu benar adanya.

 

 

* Catatan ini ditulis oleh RCA, guru SD yang berasal dari Provinsi Jawa Tengah.

** Semua tulisan yang dipublikasikan dalam Catatan Perjalanan Guru merupakan pandangan penulis, telah melalui proses penyuntingan untuk keperluan penulisan populer, dan tidak mewakili pandangan Program RISE di Indonesia ataupun penyandang dana RISE.


Bagikan Postingan Ini