Tuesday, 2 April 2019

Mengikuti Jejak Ibu Menjadi Guru

Foto ilustrasi: Tony Liong

 

Menjadi guru adalah cita-cita saya sedari kecil. Guru yang mengajari saya membaca, salat, dan mengaji. Guru jugalah yang melatih saya agar berani tampil di depan umum, bahkan sejak saya masih di bangku TK.

Melihat guru mengajar di depan kelas, baik saat TK maupun SD, membuat saya ingin menjadi seperti mereka. Saking kagumnya dengan profesi guru, saya dan teman-teman dulu sering bermain peran menjadi guru. Dari situlah saya merasa guru adalah profesi yang menyenangkan.

 

Mengikuti jejak Ibu

Dalam keluarga besar saya, baik dari sisi ayah maupun ibu, banyak yang berprofesi sebagai guru, termasuk ibu saya. Ibu adalah adalah sosok yang paling menginspirasi saya untuk menjadi guru.

Awal masuk SD, saya bersekolah di SD swasta. Ketika naik kelas II, saya pindah ke SD negeri tempat Ibu mengajar–di sekolah itu Ibu mendidik siswa kelas III. Bersekolah di tempat Ibu mengajar memacu saya untuk giat belajar. Prestasi saya pun meningkat. Di sekolah baru, saya selalu berada pada peringkat tiga besar di kelas.

Ibulah yang memotivasi saya agar rajin belajar. Beliau juga kerap menemani saya belajar di rumah. Dalam diri saya kemudian timbul hasrat untuk mengikuti jejak beliau menjadi guru. Saya ingat betapa bangganya saya dengan profesi Ibu saat itu.

Sering kali saya melihat Ibu membawa pekerjaan dari sekolah ke rumah. Walaupun terlihat lelah, tetapi, di rumah Ibu masih menyelesaikan pekerjaan dari sekolah, seperti menilai tugas-tugas muridnya. Beliau selalu bersemangat menjalani profesinya.

“Menjadi guru itu penuh tantangan karena hampir setiap hari menghadapi anak dengan berbagai macam karakter. Profesi ini tidak seperti pekerjaan lain yang hanya ‘menghadapi’ benda mati,” ujar Ibu pada saya suatu waktu. “Kalau melakukan [pekerjaan ini] dengan ikhlas dan sabar, insyaallah akan mendapat berkah,” beliau melanjutkan.

Meskipun berprofesi sebagai guru, namun, Ibu tidak pernah menuntut anak-anaknya untuk mengikuti jejaknya. Beliau hanya pernah berkata seorang guru dapat terlihat lebih muda dari umur sebenarnya. Ini karena setiap hari, guru, terutama di TK dan SD, berinteraksi dengan anak-anak. Tingkah laku anak-anak yang ceria membuat guru selalu bahagia dan terlihat awet muda.

Melihat kesabaran Ibu, mendengar nasihat beliau mengenai berkah dari profesi guru, serta kebanggaan saya terhadap profesi yang beliau geluti, tanpa sadar saya menjadikan Ibu role model.

 

Bermanfaat bagi orang lain

Saat duduk di bangku SMP, saya sangat senang belajar matematika, padahal sebelumnya saya tidak menyukai pelajaran tersebut. Guru matematika di sekolah mengubah pandangan saya terhadap mata pelajaran tersebut, dari menakutkan menjadi menyenangkan. Itu merupakan salah satu dari sekian banyak momen yang meyakinkan saya untuk mengejar profesi guru. Saya ingin menjadi guru yang dapat membuat anak-anak menyukai pelajaran.

Pada dasarnya saya ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Dengan menjadi guru, saya dapat membagi ilmu kepada peserta didik. Untuk itu, guru dituntut untuk terus belajar. Bukan hanya menguasai materi mata pelajaran, tetapi juga belajar mengenai kepribadian peserta didik yang berbeda-beda. 

Saya merasa harus terus mempelajari materi mata pelajaran karena ilmu terus berkembang. Oleh karena itu, kita pun perlu berkembang mengikuti zaman. Minimal dengan rajin membaca agar kita dapat terus mengasah kemampuan berpikir sehingga tidak jadi orang yang sering lupa.

Secara pribadi, saya tertarik pada dunia anak. Saya senang menonton acara parenting maupun acara tentang perkembangan anak. Saat mengajar, saya bertemu anak-anak dengan beragam karakter dan belajar berinteraksi dengan mereka. Harapan saya, pengetahuan maupun pengalaman tersebut kelak dapat saya terapkan saat saya menjadi orang tua.

Saya percaya bahwa mengemban amanah sebagai guru dapat menjadi investasi amal. Setiap ilmu yang guru sampaikan kepada murid dapat menjadi amalan, terlebih bila ilmu tersebut mereka praktikkan.

Guru juga dapat “melahirkan” sosok yang lebih pintar dari dirinya. Mengajari peserta didik dari tidak bisa sampai menguasai atau memahami sesuatu, merupakan hal yang membahagiakan. Kebanggaan seorang guru, menurut saya, adalah ketika mendengar peserta didiknya menjadi orang yang sukses.

 

 

* Catatan ini ditulis oleh RO, guru SD yang berasal dari Provinsi Jawa Barat.

** Semua tulisan yang dipublikasikan dalam Catatan Perjalanan Guru merupakan pandangan penulis, telah melalui proses penyuntingan untuk keperluan penulisan populer, dan tidak mewakili pandangan Program RISE di Indonesia ataupun penyandang dana RISE.


Bagikan Postingan Ini